Home Jhony Bunglon Pesan Untuk Jokowi

Pesan Untuk Jokowi

<1057

Yang terhormat, Presiden Joko Widodo

Menyikapi pidato mu di hadapan ribuan pendukung kemarin, izinkan saya membuat beberapa pesan sebagai bahan perenungan.

Bagimu, pidato itu mungkin hanya lelucon biasa. Seperti bagaimana kebiasaanmu melempar kata lalu muncul kritik sebagai bantahan dr apa yang kau ucapkan.

Pak Widodo..

Mengenai TANTANGAN yang kau ucapkan itu..

Lahan bapak Prabowo yang ada saat ini, terbukti sangat membantu ekonomi rakyat. Perhutani pun merasa terbantu dengan keberadaan lahan Bapak Prabowo di Aceh. Tidak ada pelanggaran lahan yang beliau kuasai. Tidak ada konflik dengan masyarakat atas batas pengadaannya. Juga tidak ada kerusakan lingkungan yang terjadi di Aceh akibat lahan bapak Prabowo.

Ketika beliau mengatakan siap mengembalikan asal untuk kepentingan negara, beliau menunjukkan pengorbanan. Harta yang beliau kuasai saat ini siap di serahkan sebagai tanda patriotisme dan nasionalisme.

Sayangnya...dirimu terlalu lurus memahami kata kunci dari perkataan Prabowo.

Jika di minta, Prabowo siap.

Tapi sebelumnya, kau harus berpikir dulu pak Widodo. Jika dengan sukarela kau begitu antusias menyambut tanah tersebut, bagaimana dengan konvensi lahan yang di kuasai para taipan dan jelas melanggar?

Antusias mu tidak kau perlihatkan ketika banyaknya konflik pemilik lahan dengan masyarakat karena terjadinya penyerobotan tanah milik warga? Bagaimana dengan kerusakan lingkungan yang terjadi atas penguasaan lahan pengusaha itu? Apakah dirimu tidak antusias juga mengambil lahan sesuai dengan aturan yang berlaku?

Di sini kelamahanmu pak Widodo.

Kau memang terlihat lugu, sekilas penuh senyum. Nyatanya, kau berhati rada bengis ketika menjadikan sukarela Prabowo menjadi bahan tertawaan. Jika kau serius, harusnya segera kau urus. Temui Bapak Prabowo, jika kau malu..perintahkan bawahanmu menemui dirinya di Hambalang yang pintunya selalu terbuka untuk siapa saja.

Membuat surat jika cara di atas pun terasa berat. Apakah kau sudah memulainya pak?

Belum...kau belum memulai apapun untuk kata yang kau koarkan pada pendukungmu kemarin. Kau lebih memilih cara pelawak yang lugas dan lancar bicara karena tidak membawa logika. Tujuan pelawak, membuat tertawa penonton. Terkadang dirinya pun dijadikan bahan tertawaan agar penonton menjadi riang. Dan kau sangat mahir ketika melawak menjadi basis ilmu yang kau banggakan.

Lebih memilih berkoar seolah tanah yang di janjikan Prabowo itu hanya hitungan jengkal luasnya. Dan bisa di serahkan layaknya melempar buah pada anak kecil.

Yang di kuasai Prabowo bukan 1 unit ruko atau satu hektar ladang jagung pak, tapi puluhan ribu hektare tanah yang di dapatnya secara LEGAL. Jika Prabowo sukarela mengembalikannya, maka buatlah forumnya terlebih dahulu atas apa yang dia ucapkan di panggung debat kemarin. Buatlah pertemuan yang khusus atas hal itu, peragakan budaya Nusantara yang baik saat menerima hibah.

Apa kau sudah lakukan hal itu...?

Belum..kau belum lakukan apapun untuk hal itu. Apakah koar di panggung terbuka kemarin merupakan cara elegan seorang pemimpin?

Pak Widodo, dirimu presiden. Bukan pelawak yang membawakan tema dusta sebagai bahan lawakan.

Kau hanya berani mengusik lahan bapak Prabowo karena ini tahun politik. Tapi kau lupa di lingkaran pinggang-mu, jutaan hektare lahan juga di kuasai pengusaha yang dekat dengan mu. Belum lagi subsidi triliunan yang kau berikan pada mereka tahun lalu. Mengapa kau tidak menyasar orang dalam dulu dengan menawarkan pada mereka akan artinya patriotise dan nasionalisme?

Bukannya kami mencari rasa untuk kelompokmu, tapi jika memang kau berniat menggarap lahan yang di kuasai pengusaha, maka kau harus membuka mata bahwa bukan hanya Prabowo yang jadi pemilik lahan HGU saat ini. Walau tanpa pemberian, ada baiknya kau juga menawarkan pada mereka untuk mengikuti perkataan Prabowo.

Apa sudah kau lakukan ...?

Belum, kau belum lakukan apapun. Bagimu, membuat tertawa pendukung mu sangat penting saat ini. Walau harus membuang kata tanpa perlu fakta.

Pak Widodo, di sisa kekuasaanmu...berikanlah sikap yang bersahaja mencerminkan kau seorang pemimpin. Apa yang kau tampilan kemarin, kembali menjadi sorotan yang akhirnya kau sendiri meralat ucapan.

Bukan sekali kejadian seperti ini, sering dan jadi kebiasaan malah.

Mohon berpikir sebelum bicara, mohon renungkan sejenak di ruang sempit-mu ketika kau akan tampil membawakan teks dalam genggaman. Pahami kata pada tulisan yang akan kau baca, cermati setiap hurufnya agar kau tidak salah kembali dan menjadi pembicaraan dunia.

Di sisa waktu ini, bijaklah pak...buatlah Indonesia tenang karena perkataannya yang membuat orang bangga, buat diri ini bangga di penghujung waktumu berkuasa. Apa kau mampu pak Widodo..?

Sengaja saya tag dirimu pak, agar sampai tulisan ini pada dirimu. Walau hanya admin yang membaca, tapi itu sudah buat ku bahagia.

Dari saya, Budi Setiawan

Rakyat yang masih menganggap

Dirimu presiden Republik Indonesia

TRENDING

VLOG