Home Jhony Bunglon TAMPARAN SELOP UNTUK SANG PENGKHIANAT

TAMPARAN SELOP UNTUK SANG PENGKHIANAT

<1084

TAMPARAN SELOP UNTUK SANG PENGKHIANAT

Karena terkesima dengan tampilan Tumenggung Sumodipuro yang merakyat, lugu dan dianggap berhasil selama menjadi bupati Japan (Mojokerto) maka Pangeran Diponegoro mengusulkan pada ayahandanya, Sultan Hamengkubuwono III, untuk menjadikannya sebagai patih. Padahal kala itu, bukanlah hal yang lazim untuk memberikan posisi sentral di ligkungan keraton kepada orang luar apalagi berasal dari wilayah pinggiran. Namun karena Pangeran Diponegoro adalah sosok kepercayaan sang ayahanda, maka alhasil Tumenggung Sumodipuro pun diangkat menjadi patih dengan gelar Patih Danurejo IV.

Namun, kali ini intuisi Pangeran Diponegoro keliru. Selama pemerintahan Patih Danurejo IV, korupsi di Keraton Yogyakarta justeru merajalela. Berbagai keputusan keraton bisa diperjual belikan. Dalam salah satu catatan sejarah ia dijuluki "setan kulambi manungsa, angecu sarwi lenggah" yang artinya "setan berbaju manusia yang merampok sambil duduk-duduk". Di masa jabatannya, keraton juga dilanda degradasi moral di mana candu dan perzinaan menjadi pemandangan yang lumrah.

Banyak perilaku Patih Danurejo IV yang dianggap merusak etiket yang berlaku di kalangan keraton. Ia berani memakai simbol-simbol kekuasaan yang tidak diperkenankan untuk digunakan oleh selain Sultan. Selama ia berkuasa, ia menempatkan kroni-kroninya untuk menduduki berbagai jabatan di keraton tanpa mengindahkan asas kelayakan dan kepatutan. Fenomena pengangkatan Patih Danurejo IV ini digambarkan dengan kiasan jawa "kere munggah bale", orang kecil yang memperoleh karir kekuasaan secara instan lalu menjadikannya lupa diri.

Dalam merusak tatanan kraton, Patih Danurejo IV tidak melakukannya dengan sendirian. Ia mendapat dukungan dari Ratu Ibu (yang di kemudian hari menjadi Ratu Ageng) yang dari sejak awal sangat berambisi menjadikan anak keturunannya menjadi sultan. Dari kalangan militer, ia mendapat dukungan dari Tumenggung Wironegoro yang menjabat sebagai kepala pasukan pengawal Sultan. Menjelang Perang Jawa, tiga serangkai tersebut dikenal sebagai kelompok elit politik yang anti terhadap kalangan Islam yang diwakili oleh Pangeran Diponegoro, para ulama dan santri.

Untuk mendapatkan akses dan dukungan finansial, Patih Danurejo IV menjalin hubungan erat dengan Tan Jin Sing alias K.R.T. Secodiningrat, seorang Tionghoa yang diangkat menjadi birokrat keraton atas tekanan pemerintah Inggris. Disamping menjalin hubungan dengan orang-orang kunci di pusaran kekuasaan keraton, Patih Danurejo IV juga menjalin hubungan dengan kekuatan asing yang tak lain adalah penguasa kolonial Belanda.

Patih Danurejo IV adalah tipe orang yang bisa dengan ringan hati mengingkari kebaikan orang-orang yang berjasa pada dirinya. Alih-alih membalas budi jasa Pangeran Diponegoro yang telah mengantarkannya pada kedudukannya saat itu, beberapa kali ia justeru bersiasat untuk mencelakakan sang Pangeran. Bahkan pernah suatu saat ia berupaya mempermalukan sang Pangeran di depan publik. Namun di luar dugaan dia, siasat tersebut justeru berbalik mempermalukan dirinya sendiri.

Suatu hari ia dipanggil oleh Pangeran Diponegoro karena tindakannya menjual aset-aset keraton pada pihak asing (kolonial). Alih-alih menjukkan rasa tanggung jawabnya sebagai kepala pemerintahan, sang patih justeru menyikapi pemanggilan itu dengan tidak serius (bercanda). Maka Pangeran Diponegoro pun meluapkan kemarahannya dengan menampar muka Patih Danurejo IV dengan selop. Sebuah hadiah yang pantas untuk seorang pengkhianat.

Kejadian epik ini lalu diabadikan dalam Buku Kedhung Kebo. -copy paste berantai-

Sejarah memang seringkali berulang, polanya sama.. cuma beda tokohnya...

TRENDING

VLOG