Home ESPN Indonesia Tidak Ada Kalah Terhormat, Kalah Tetaplah Kalah

Tidak Ada Kalah Terhormat, Kalah Tetaplah Kalah

<1030

Mungkin kita sering mendengar istilah kalah terhormat. Atau kalah tapi membanggakan, ya istilah ini adalah istilah normatif.

Ucapan di atas sebenarnya lebih tepat jika dikatakan sebagai upaya menghibur diri sendiri atas kekalahan yang dialaminya.

Sebenarnya istilah kalah terhormat atau kalah membanggakan sejatinya tidak pernah ada dalam sisi substantif.

Kalah dalam turnamen apapun tetaplah kalah tidak ada piala khusus untuk mereka yang kalah atau piala kalah terhormat atau piala kalah membanggakan.

Biar bagaimanapun dunia menganggap yang kalah tetaplah pecundang. Yang kalah tidak akan pernah dapat podium, itulah kompetisi di manapun dalam cabang apapun.

Sehingga sebaiknya ucapan kalah terhormat atau lebih baik kalah tapi terhormat tidak lagi diucapkan sebab kalah ya tetap kalah. Jangan menghibur hati dengan kebohongan.

Mengkritisi atau meluapkan kekecewaan pada para pemain atas sebuah kekalahan bukanlah hal tabu atau hak yang tidak baik, justru itu adalah hal tepat.

Misalnya dalam kasus sepak bola, mengkritisi pemain dan meluapkan kekecewaan pada para pemain adalah hal yang wajar. Sebab mereka adalah pesepakbola profesional yang punya kewajiban memenangkan setiap pertandingan. Maka saat gagal wajar mendapatkan kritikan, sebab mereka dibayar.

Jadi saat seorang pemain memutuskan menjadi pesepakbola profesional maka dia pada dasarnya sudah tahu semua konsekuensi dan kewajibannya saat bermain termasuk akan mendapatkan kritikan dan luapan kekecewaan saat kalah.

Ini tidak beda jauh saat kita bekerja sebagai karyawan, kita tahu apa yang harus kita kerjakan dan tahu konsekuensinya jika kita gagal dalam pekerjaan tersebut, termasuk mendapatkan kemarahan atasan.

Jadi pesepakbola profesional adalah seseorang yang dibayar untuk bermain dan menang dan siap mendapatkan kritikan dan luapan kekecewaan jika kalah.

Yang tidak boleh terjadi adalah jika mereka tidak mendapatkan haknya seperti gaji atau bonus. Bukan tidak boleh dikritik.

Jadi sangat tidak rasional jika dikatakan kita tidak boleh kritik pemain bola yang kalah jika kita tidak bisa seperti dia.

Pengeritik tidak pernah punya kewajiban harus bisa seperti yang dikirim atau harus bisa memberi solusi, jika si pengeritik harus bisa seperti yang dikirim atau harus bisa memberi solusi maka hampir dipastikan yang dikritik tidak akan pernah punya pekerjaaan sebab akan digantikan sama si pengeritik.

TRENDING

VLOG